Sejarah Ki Senu Dan Yi Senu

Desa Troso terletak dalam Wilayah Kecamatan pecangaan yang merupakan bagian dai tingkat II Kabupaten Jepara, Popinsi Jawa Tengah. Daerah ini berada sekitar 59 km di sebelah utara kota semarang. Secara geografis desa Troso terletak di sebelah barat wilayah Kecamatan Pecangaan. Bentuk daerah itu kurang lebih memanjang dari arah utara ke selatan. Jika di tinjau dari letak sosial ekonominya, Desa Troso terletak kurang lebih 1,5 km kearah timur dari kota kecamatan pecangaan.

Penggalian catatan sejarah berwal dari masukan dan usulan Kelompok Sadar Wisata (POKDARWIS) Desa Troso untuk memperoleh data dan catatan sejarah mengenai keberadaan mbah Senu dan Nyai Senu yang dianggap sebagai penemu Tenun di Desa Troso sehingga dapat dijadikan sebagai pedoman bagi generasi berikutnya.

Selanjutnya hasil rapat pengurus POKDARWIS dan stake holder yang mendampingi diantaranya Pemerintah Desa, PTUPT Universitas Muria Kudus memutuskan untuk melakukan kajian dan investigasi dengan membentuk TIM ISNU Community sebagai pelaksana lapangan dan menunjuk Tim Ahli Spiritual bernama Bapak Nur Akhsan dari Desa Bulungan.

TIM ISNU Community yang didampingi Tim Ahli Spriritual melalui usaha kebatinan dan arahan dari habib luthfi memulai perjalanan penggalian sejarah dengan ziarah ke Makam Mbah Senu dan Masji Datuk Ampel.

Setelah melalui istikhoroh mendapatkan hasil bahwa mbah SENU dan Nyai SENU memang menjadi cikal bakal Tenun Desa Troso. Hal tersebut di buktikan dengan adanya Makam Mbah SENU dan Nyi SENU. Disamping itu pula dari istikhoroh tersebut tim ISNU Community diminta datang ke Muria karena Sunan Muria diduga ada keterkaitan dengan mbah Senu.

Kemudian Tim ISNU Community melanjutkan perjalannannya ke Muria untuk melakukan penelusuran terkait dengan keterkaitan mbah Senu dengan Sunan Muria.

Disana Tim di sambut oleh salah satu pengurus Yayasan Muria yakni Nur Sholeh. Beliau selaku juru kunci makam Sunan Muria. Dalam pertemuan tersebut pak Sholeh menyampaikan bahwa memang Mbah Senu merupakan salah satu keturunan Sunan Muria. Nama lengkapnya adalah ISNU Hidayat hal tersebut dibuktikan dengan adanya catatan  dalam buku Poestoko Darah Agoeng karya Raden Darmowasito Kudus. Dalam bukunya disebutkan bahwa Isnu Hidayat merupakan keturuanan ke 14 Sunan Muria dari keturunan Raden Priyo Kusumo. Tim ISNU community dan spiritual melakukan Istikhorah lagi an mendapat petunjuk bahwa Mbah Senu belajar agama dengan  syech Banjar kemudian setelah selesai menimba ilmu keagamaan mbah Senu kemudian kembali ke Muria,setelah itu beliau mendapatkan amanah dari kasepuhan muria untuk meneruskan perjuangan walisongo di keling.

Juru kunci Makam Muria juga menyampaikan bahwa mbah Senu juga ada keterkaitan dengan Desa Watu Aji dan Desa Jlegong. Di dua desa tersebut mbah Senu dianggap punya andil besar dalam penyebaran islam disana.

Kemudian tim melakukan perjalanan kesana. Disana tim melakukan penelusuran investigasi ke Desa Watu Aji dan di sambut oleh mbah Jamal selaku juru kunci desa tersebut. Mbah jamal mengemukakan bahwa di Desa Watu Aji ada peninggalan berupa watu soko, watu gebyok, watu lumbung, dan watu lawang.Berbagai macam batu tersebut merupakan peninggalan walisongo yang menurut pendapat masyarakat setempat batu tersebut akan dijadikan sebagai masjid. Namun ketika proses pembangunan masjid tersebut diketahui oleh masyarakat setempat yang saat itu menjemur kapas dan kondisi sudah ada ayam berkokok sehingga proses pembangunan terhenti dan tidak dilanjutkan. Saat itu baru terbangun 4 bakal soko dan gebyok. Setelah itu mbah jamal membawa kami untuk melihat langsung peninggalan- peninggalan tersebut.

Setelah dari Watu aji Keling kami melanjutkan perjalanan kami di Desa Jlegong yang mana Desa tersebut juga memunyai keterkaitan sejarah dengan Mbah Senu. Disana kita disambut oleh Mbah Pariman dan Mbah Tadzkiroh selaku juru kunci makam Mbah Syawur. Mbah Pariman dan mbah Tadzkiroh mengemukakan bahwa mbah Senu memang mempunyai andil dalam mengembangkan penyiaran islam di desa tersebut hal itu di buktikan dengan adanya peninggalan sebuah peti yang berisi 2 buah gentho, 2 buah lazam dan 2 buah pisau. Peninggalan tersebut berada di rumah mbah Pariman. Disamping itu pula kami di ajak melihat peninggalan lain berupa umpak yang berada di tanah Pasigitan perkebunan perhutani. Konon cerita masyarakat setempat menyakini akan dibangun masjid di desa tersebut namun tidak terlaksana karena sebelum dibangun sudah diketahui masyarakat sekitar yang notabene beragama hindu. Sehingga agar tidak terjadi gejolak dan perseisihan maka masjid tersebut batal dibangun.

Mbah Tadzkiroh menambahkan bahwa mbah Senu merupakan seperguruan dengan mbah Sawur, cikal bakal desa Jlegong. Mereka berdua merupakan murid dari Sunan Muria. Dan nama panggilan mbah Senu disana adalah Syech abdurrahman. Mereka bersama sama menyebarkan agama islam disana, namun perjalanannya mengalami kendala karena banyak masyarakat jlegong menentang dan menolak ajaran islam disana  karena mereka kebanyakan besar menganut ajaran Hindu sehingga mereka berpisah kemudian Mbah Senu melanjutkan perjalanan  ke Troso untuk mengembangkan penyebaran islam dan perekonomian di Troso.

Di desa Troso Mbah Senu bertemu dengan mbah Datuk Gurnadi Singorojo yang sudah meyebarkan syiar agama islam sebelumnya di desa itu. Mbah Senu hidup bermasyarakat di desa Troso sambil menyebarkan agama islam dengan cara dakwah, mengajarkan ilmu kanuragan (bela diri), dan juga mengajarkan keterampilan menenun kain.

Tak selang beberapa lama mbah Datuk Gurnadi Singorojo menunjuk Mbah Senu untuk meneruskan perjuangannya dalam menyiarkan agama islam sehingga mbah Datuk Gurnadi Singorojo membangun masjid datuk Ampel yang diresmikan oleh Sunan Kalijaga sehingga masyarakat setempat mengenal masjid tersebut dengan sebutan masjid wali. Kemudian setelah terbangun mbah Datuk Gurnadi Singorojo meneruskan syiar agama islamnya ke singaraja Mayong.

Mbah Senu bersama ulama yang lain diantaranya mbah Tarso Abdillah atau mbah kasrowi bersma- sama meyebarkan agama islam di desa Troso. Kemudian mbah Senu di jodohkan dengan putri Mbah Tarso Abdillah yang bernama Siti Badriyah atau Siti Maesaroh.

Mbah Senu dan Siti Maesaroh hidup didesa Troso dengan mengembangkan ketrampilan yang didapat dari syech banjar berupa menenun berupa tenun Gendong atau gedhok yang kemudian bergeser menjadi tenun ikat. Beliau dimakamkan di area pemakaman umum desa Troso, tepatnya di komplek makam Dhowo (disebelah selatan komplek pemakaman umum Nogosari).

Sumber informasi dan data :

  1. Pemerintah Desa Troso
  2. POKDARWIS Desa Troso
  3. TIM ISNU COMMUNITY
  4. Pengurus Yayasan Muria
  5. Juru Kunci Ds. Watu Aji
  6. Pemilik Peninggalan Benda Gento, Lazam dan Pisau.
  7. Juru Kunci Makam mbah Sawur
  8. Menantu Mbah Pariman
  9. Buku Poestoko Darah Agoeng karya Raden Darmowasito Kudus